Firman Ichsan and his Art

Mochammad Firman Ichsan, born in Jakarta, May 16th,1953.
Firman observed his mother taking painting classes, while his father was stationed in Stockholm, Sweden. Then, the friendship between his parents and the renewed painter Basuki Abdullah in Bangkok, Thailand, increased his appreciation in the art of painting. But during his student years studying non Western Sociology in Amsterdam, he instead concentrated on photography. After a While upon his return to Indonesia, in 1978 Firman established himself as a commercial photographer. Although since 1984 until present his involvement is mostly in fashion photography.
In 1992, to express himself further, Firman started to paint seriously. In 1993 he held an painting exhibition at the Main Gallery of The Jakarta Art Center, Taman Ismail Marzuki. At the end of the same year, Firman had his first Solo exhibition at the Cemara 6 Gallery Café Jakarta.

“Almost all of Firman’s painting don’t reflect any external observation, but more of an inner vision, it seems that he dislikes stagnant situations.
Nocturne, or the night life after a busy workday in this Capital City has inspired him of the solitude feeling despite the glitter and the entertaining music and the accompanying spirited drinks. Painting speaking of love feeling blue, light-heartiness, conflicts and other worldly feelings.
The strength of these paintings, is that he succeeded in capturing the felling of closeness and glamour, with minimal colors in expressing the impression that he wants without the unnecessary trimmings often the models portrayed, are only a pretex to express the tones taken from the curves of their bodies, although not done in detail it contains a visual sensuality”.
Firman continues his journey alone, with his personal opinion on life which surrounds him.

( Merwan Jusuf, art critic on Firman first Solo exhibition “serenade” ).

FIRMAN dan SENI

Mochammad Firman Ichsan (1953). Terbiasa melihat Ibu belajar melukis ketika masa kecil di Stockholm. Kemudian persahabatan orangtuanya dengan pelukis Basuki Abdullah di Bangkok. Melahirkan apresiasinya pada seni lukis.
Namun ketika kuliah jurusan Niet Westerse Sociologie di Amsterdam, Belanda. Meskipun sering bertemu dengan pelukis aktivis-dalam asil Basuki Resubowo, ia menekuni bidang fotografi. Sekembalinya di Indonesia, tahun 1978 Ia mulai bekerja dalam bidang fotografi.
Tahun 1992 untuk lebih dapat mengekspresikan diri, ia melukis bersama Maartri Djorghi dengan tutor Poerbonoadi.
Atas ajakan pelukis Hardi di tahun 1994, mengadakan pameran bersama bertempat di Galeri Utama Pusat Kesenian Jakarta, Taman Ismail Marzuki. Tahun yang sama, Firman berpameran tunggal perdana dengan judul “Dansa Dua Bangsa” di Cemara 6 Galeri Café, Jakarta. Kemudian tahun 1995 bersama pelukis Poerbonoadi ia berpameran di Balai Budaya, Jakarta. 1997, Pameran tunggal yang kedua dengan judul “Kisah Kasih” bertempat di Galeri Café Cemara 6 dan Galeri T.C. Jakarta.Kemudian berpameran tunggal untuk ke-empat kalinya dengan tema “Grey” bertempat di Chedi Gallery, Ubud Bali pada tahun 1999. Tahun 2001 berpameran tunggal dengan tema “Teman” di Alila Hotel, Jakarta.
Selama kurun waktu itu, karyanya mengalami perubahan bentuk, meski tetap dalam tema yang sama; figuratif, masyarakat urban-modern dan pengalaman emosinya. Hingga bila pada awal awal penekanannya ada pada bentuk lengkung dan warna-warni yang kontras. Maka semenjak tiga pameran tunggalnya yang terakhir garis lurus nampak dominan, meski masih dalam nuansa impresionistik oleh peran pencahayaan. Sedang pada pameran tunggalnya ke 5; “Urban Emotions” bertempat di Alila tahun 2002, Firman menghadirkan karya karyanya dalam satu nuansa warna yang cenderung monokromatik.
Tahun 2003 berpameran tunggal dengan tema :”After Love and Friendship:An Urban Emotion” di JakArt, dimana pameran ini merupakan rangkuman karya-karya selama tahun berjalan tersebut.
Pameran diakhir tahun 2007 ini. Untuk melengkapi cerita “Solitude”, ia juga merangkum beberapa karya dari pameran pameran sebelumnya.
Firman, selain sebagai curator bidang seni dan fotografi, juga menjadi Pengurus Harian Dewan Kesenian Jakarta, periode 2006 – 2008.

Pernah menikah (2 kali) dan memiliki dua putera-puteri dari pernikahan pertama (Poppy Dharsono, pengusaha, perancang busana) mendapatkan seorang putera; M.Fauzi Ichsan ( banker, usia 37th) dan seorang puteri; Tanisa Diva Siti Murbarani ( usia 12th) dari pernikahan ke dua (Okky Asokawati)






Apa Arti Fotografi bagi Saya?

5 Pokok Panduan

Setelah melalui kerja ,pengajaran dan seleksi dalam bidang fotografi dalam kurun lebih dari 30 tahun. Untuk, memperkenalkan, menghadirkan serta mengutamakan beberapa pilihan kerja dan pemikiran dalam fotografi. Wajar saja bila orang bertanya pada saya, tentang; apa dan bagaimana sebaiknya fotografi ini?
Ada beberapa hal pokok yang dapat menjadi pedoman bagi seorang. Saat memilih untuk bekerja di bidang fotografi, apapun genre pilihannya, dapat diurai sebagai berikut.

1.Fotografi itu subyektif
Bahwa, fotografi merekam realita tetapi tidak mungkin terhindarkan dari subyektivitas jurufoto. Menghadirkan realita dalam perspektif estetik dan ideologi seorang baik secara sadar ataupun tidak. Semenjak pilihan tehnis, subyek sampai presentasi.
Fotografi mempengaruhi pandangan seorang; mengajak orang untuk masuk kedalam pemikiran jurufoto. Tetapi pemirsa memiliki keterbatasan atau sekaligus keluasan untuk membaca; baik secara estetis, psikologis, maupun ideologis. Seorang dapat menyimpulkan hal beda dari apa yang dihadirkan oleh jurufoto. Tetapi seorang pun dapat membaca dengan tepat apabila ia memiliki pengalaman dan pengetahuan yang memiliki kesamaan dengan jurufoto. Oleh karenanya seorang jurufoto yang baik harus peka dan mampu menggunakan bahasa visual untuk mengkomunikasikan maksud sajiannya. Menghadirkan tanda tanda yang mampu dibaca pemirsa.

Jurufoto tentu memiliki berbagai cara untuk penghadirkan diri (karya)nya. Ada yang ingin dengan cara yang sublim dan tidak explisit mengemukakan pendapatnya. Ada yang justru menghadirkan teks untuk menghantar pemirsa agar lebih cepat sampai pada maksud. Tetapi ada juga jurufoto yang memang hanya ingin menghadirkan estetika saja. Para jurufoto tentu memiliki kebebasan (seperti para perupa lain) untuk memilih apa dan bagaimana maksud fotografinya kemudian sajian serta tafsiranya.

2.Tehnologi sebagai media ekspresi.
Namun demikian fotografi tidak seperti seni rupa lain yang tidak terbebani oleh metode mekanisme yang tehnis. Oleh pola kerja yang tehnis, fotografi mengajak siapapun yang bekerja dengan media ini untuik berfikir logis. Ia memiliki hukum hukum tehnologi (kimiawi, optik sampai pada tehnologi elektronik-digital) yang berlaku seterusnya oleh kelahiran tehnologi yang tidak pernah berhenti. Hal ini menyebabkan pada fotografi seorang perupa-jurufoto ketika hendak menerjemahkan pemikiran dan rasa harus melalui prosedur yang bersifat tehnnis.Ia suka atau tidak, harus mempunyai kemampuan berbicara melalui tehnologi, yang cenderung terus berkembang.
Ia wajib menguasai media pilihannya dengan baik. Agar dapat berekspresi dengan perbagai pilihan yang dianggap paling ideal, bagi dirinya.

3.Pribadi dan Umum
Kita tentu masih percaya bahwa satu bentuk kesenian yang manapun memiliki kemampuan untuk membebaskan perupa dari satu tekanan atau beban pemikiran betapapun ringannya. Karya seni bagi perupa merupakan satu pelepasan –pelampisaan pemikiran nya menjadi bentuk yang estetis (kini bisa juga anti estetis). Ia menghadirkan bagian dari dirinya (bentuk pemikiran) kepada pemirsa. Sehingga tidak bisa tidak seorang jurufoto atau perupa dituntut untuk memiliki tanggung jawab akan apa yang dihadirkannya.
Karenanya para jurufoto atau perupa patut mempertanyakan kerja mereka sendiri. Apa yang ingin dicapai oleh kerja mereka. Seberapa jauh maksud itikad nya akan sampai pada masyarakat ataupu seorang individu saja.
Kita maklum dan mendukung pendapat dan laku fotografi untuk berperan dalam usaha membebaskan diri sendiri, sebagai upaya pencaharian diri (dan identitas). Namun oleh sifat alami fotografi yang reproduktif; sajian kerja seperti ini bisa menjadi sebagai satu surat pribadi yang diterbitkan pada majalah atau koran yang bukan lagi hanya satu pembacanya. Jurufoto harus sadar bahwa oleh sifat fotografi (yang reproduktif) ia mudah mencapai masa/umum dalam berbagai kondisi dan konsekwensi diluar kemampuan dan dugaan pencipta. Hal yang dapat terjadi oleh masih kuatnya anggapan umum bahwa fotografi itu real dan obyektif.


4.Tehnologi, kreativitas dan Integritas
Ketika bicara tentang tehnologi maka tentunya kita akan sampai pada apa dan bagaimana baiknya tehnologi ini teruntuk.
Logika tehnis fotografi memang tidak lahir begitu saja, ia merupakan hasil tehnologi terapan yang mengajak siapapun yeang bekerja dengannya diharuskan berfikir logis. Satu dasar pemikiran bagi masyarakat yang masuk dan hidup dalam era tehnologi.
Pernah seorang jurufoto muda bertanya pada saya bagaimana mendapatkan satu inovasi kreativitas dalam fotografi; saat itu saya jawab bahwa penemuan kembali reinterpretasi karya atau gaya yang sudah ada bukanlah merupakan satu kesalahan. Namun sesungguhnya mereka yang dinyatakan sebagai tokoh tokoh fotografi ,sangat berkaitan dengan kehadiran tehnnologi baru, semenjak penemuan peurbahan type Daguerre ke film, atau saat kamera menjadi praktis ; dengan 35mm; auto focus maupun metering. Dan kini era digital yang menyebabkan para jurufoto lebih cekatan dan melahirkan hal hal yang belum pernah atau sulit didapatkan sebelumnya. Disisi lain fotografi oleh kemampuan reproduksi dan manipulasinya juga menuntut integritas pekerjanya untuk sadar akan hal ini. Ia tidak bisa sekedar bermain main seolah fotografi merupakan manifestasi mutlak dari seorang. Ia juga tidak bisa menyatakan ia mewakili realita sesungguhnya. Ia harus jujur dan sadar akan keterbatasan maupun kemampuannya, baik tehnis maupun psikologis. Untuk ini dibutuhkan integritas kerja ; sepenuhnya sadar saat berkarya.

5.Sikap Kritis sekaligus Realistis
Oleh karenanya seperti darimana ia dilahirkan yaitu tehnologi, fotografi juga harus mengabdi pada tujuan tehnologi itu sendiri. Fotografi harus mampu memberi pencerahan pada seorang maupun pada masyarakat. Ia bukan harus memilih untuk melakukan ini, tetapi ia seperti tehnologi itu sendiri lahir dengan maksud yang mulia. Tentu saja ada anggapan lain bahwa pada kelahiran serta perkembangan tehnologi juga dimaksudkan untuk tujuan perluasan pasar. Bahwa tehnologi terkait dengan capital serta hokum perkembangannya. Sehingga yang berlaku adalah logika kapital itu sendiri.
Pendapat ini tentu mengandung kebenaran, tetapi kita juga sadar bahwa demikian juga dengan pemikiran sebelumnya.
Hingga seolah olah jurufoto atau perupa dihadapkan pada dua keadaan. Mengapa seolah olah? Karena sesungguhnya situasi ini bukan semata mata pilihan.
Karena bila fotografi hanya teruntuk keindahan atau promosi, serta pengembangan pasar bagi produk, tentu tidak salah. Terlalu sederhana lah peran fotografi itu sendiri.
Sebagai manusia (terpelajar dan berfikir logis). Ia dituntut untuk membagi pengetahuan, memberi informasi kepada masyarkat yang lebih luas, apapun bentuknya serta tentu sebatas kemampuannya (termasuk bidang framingnya!). Ia seharusnya selalu memiliki pandangan (focus of interest) baik dari segi estetik, sampai pada ideologi yang kritis. Disamping selalu sadar bahwa ia bersifat realistis juga dari sudut pandang dan pijakan yang sama.
Fotografi meski merupakan satu kerja yang idividu dan subyektif, seharusnya seperti tehnologi yang lain, sepatutnya diabdikan pada kemajuan-progress masyarakat umum. Yang hanya bisa dicapai dalam masyarakat yang berfikir logis, tidak mistis dan mampu mengatasi masalah dengan rasional. Logika dan estetika fotografi, yang kritis dan realistis dapat memberi sumbangan bagi terbentuknya satu masyarakat yang ideal bagi kemanusiaan.

Firman Ichsan
Desember 2007

Tidak ada postingan.
Tidak ada postingan.